TV Online

Tunggu, baru LOADING.

Minggu, 22 Juli 2012

Kunjungan Kerja Dirtek LPP TVRI 
ke Perbatasan




oleh Fuad Syarif

Langit cerah di atas Kota Tarakan Provinsi  Kalimantan Timur,  menyambut dengan gembira kedatangan rombongan TVRI yang terdiri dari Direktur Teknik Erina Herawaty.C.Tobing, GM.Teknik Studio Jailani,M.Si,  Staf Ahli Direktur Utama Sam Irot, Kepala stasiun TVRI Kaltim   Drs.Syarifuddin Lakku,MM, Kepala Bidang Berita Ir.Fuad Syarif.MM dan Rosmalina Ka.Bag.Keuangan TVRI Kaltim,  mengawali perjalanan dari Bandara Juwata Internasional Airport Tarakan ke Kabupaten Nunukan. Agenda kunjungan Rombongan TVRI, akan menghadiri pertemuan Mendagri dengan masyarakat di Pulau Sebatik, akhir bulan Mei 2012. 

Sehubungan dengan pesawat Angkatan Darat yang di carter Pemprov.Kaltim tidak dapat terbang  dan pesawat regular pun sangat padat, terpaksa menggunakan speedboat menuju Kota  Nunukan.  Dengan hati yang berdebar-debar dan  berdoa setiap saat dalam perjalanan di atas Speedboat, akhirnya tiba   di Pelabuhan Tunon Taka Kota Nunukan setelah dua jam perjalanan.

Lembayung  senja memancarkan warna kemerahan di kota Nunukan, mengantarkan rombongan langsung menuju ke satuan Transmisi Nunukan yang terletak ditengah kota.  Di satuan transmisi ini, Direktur Teknik  melihat peralatan pemancar TVRI  dengan sistem   VHF, berkekuatan 5.000 watt,  dalam kondisi  baik.  Daya pancar yang kuat ini, banyak diantara masyarakat  di pulau Nunukan mengungkapkan kebanggaannya dapat menonton TVRI dengan siaran budaya , informasi, hiburan serta dakwah agama yang merangkum NKRI.   Direktur Teknik  TVRI sangat senang karena satuan transmisi ini juga cukup bersih serta  kantornya pun dilapisi karpet.
Perbincangan agak serius ketika Kepala satuan transmisi Nunukan, Jamil menjelaskan masalah  UPS yang rusak dan tidak dapat berfungsi, menjadi catatan tersendiri bagi  Direktur Teknik. Padahal program BTESA yang merupakan kerjasama dengan pemerintah Spanyol, seharusnya mendapat  garansi alat, dan jika  ada kerusakan, segera diperbaiki. Hari mulai gelap, rombongan bermalam di Kota Nunukan.

Keesokan hari, rombongan berangkat ke Pulau Sebatik. Belum terbayangkan seperti apa pulau Sebatik, Pulau yang unik karena ada dua Negara memiliki pulau ini yaitu  di bagian utara dengan   Malaysia Timur dan di bagian selatan, Indonesia.  Dirtek sendiri, memang sudah ada rencana mau ke sebatik, tapi mimpi beliau menjadi kenyataan setelah disposisi dari Dirut yang meminta Dirtek pergi ke Pulau Sebatik. 

Setiba di pelabuhan sebatik,  turun dari speedboat, menjejakan kaki di dermaga,  rombongan Dirtek naik ojek menuju rumah Kepala satuan transmisi Sebatik.  Dirtek menuturkan, pengalaman yang menarik, baru pertama kali naik ojek karena selama ini kunjungan kerja kemana pun belum pernah naik kendaraan roda dua.

Rasa lelah dalam perjalanan, sedikit terobati karena  disuguhkan  makanan khas sebatik yang  mirip dengan panganan Suku Bugis di Sulawesi Selatan.  Selain itu  menyantap ikan bakar dan gulai kepala ikan, yang sangat lezat tidak pernah dijumpai di  Jakarta. 

Setelah istirahat,  langsung menuju satuan transmisi Sebatik. Dirtek  melihat dari dekat siaran TVRI yang dipancarluaskan oleh transmisi ini, menggunakan sistem penyiaran UHF dapat diterima dengan baik di Pulau Sebatik dan di Kota Tawau Malaysia Timur.  Para perantau Indonesia di Kota Tawau, selalu menonton siaran TVRI Nasional maupun TVRI Kaltim.  Menurut Direktur Teknik, Erina Herawaty.C.Tobing, pihaknya akan memperbanyak satuan transmisi di daerah perbatasan dan memperkuat daya pancarnya. Hal ini dilakukan untuk memperkuat rasa nasionalisme  bangsa Indonesia yang rentan terhadap pengaruh dari Negara Tetangga.  Di daerah perbatasan tepatnya di Aji Kuning, ada rumah penduduk yang berandanya  di Indonesia dan dapurnya masuk wilayah Malaysia serta anak bangsa di daerah perbatasan menggunakan dua mata uang  yaitu rupiah dan ringgit Malaysia.
Namun yang menjadi kendala di Satuan Transmisi ini, masalah pasokan BBM, khususnya Solar untuk pembangkit tenaga listrik.  Kadangkala stock BBM cukup langka, kalaupun ada BBM, harga cukup tinggi mencapai dua kali lipat harga standard an itupun harus antri yang lama mendapatkan BBM tersebut.  Hal ini perlu menjadi perhatian, karena pemancar sangat bergantung kepada aliran listrik.

Saat acara pertemuan Mendagri, Menkokesra, Mentri Perumahan rakyat dan Wamen PU bersama masyarakat Sebatik,  Direktur Teknik sempat  bertatap muka dengan Gubernur Kaltim, dan  berbincang-bincang sebelum acara dimulai.  Gubernur Kaltim, Awang faroek Ishak merasa bangga berjumpa dengan Dirtek di Pulau Sebatik dan beliau berujar,  sudah dua kali ya datang ke Kaltim, karena beliau pernah mengatakan, setiap orang yang pernah berkunjung ke Kalimantan Timur meminum air Mahakam, pasti akan kembali ke Kalimantan Timur.  Dalam bincang-bincang singkat,  Dirtek berjanji akan memperkuat TVRI diperbatasan Kalimantan Timur dengan menempatkan 4 Transmisinya  dan rencana kedepan, trasnmisi akan diperbesar daya pancarnya.

Usai pertemuan, rombongan TVRI langsung kembali ke Tarakan menggunakan speedboat carteran, berangkat pukul 16.30 wita.  Rasa was-was kembali muncul, karena angin agak sedikit  kencang dan ombak mulai membesar, serta penumpang sedikit kawatir, karena hentakan speedboat begitu terasa, tidak seperti waktu berangkat ke pulau Sebatik.  Namun berkat kesigapan  motoris speedboat, setelah menempuh 2,5 jam perjalanan akhirnya tiba di Kota Tarakan.

Rombongan pun terpaksa menginap di  Tarakan dan keesokan harinya, baru berangkat ke Jakarta dan kami kembali ke Samarinda.
Rombongan merasa haru dan bangga dapat menapaki Pulau Sebatik, yang menjadi pembicaraan orang, bahwa di perbatasan dalam kondisi yang memprihatinkan.  Dengan mata kepala sendiri dan  Dirtek pun, melihat Kota Tawau yang menjulang tinggi   dari pulau sebatik, sedangkan pulau sebatik, tidak terlihat sama sekali dari kota Tawau. Kenyataan memang, di Pulau sebatik, rumah penduduk beratap seng dan berdindingkan papan.  Namun sesuai pepatah, hujan emas di negeri orang, masih lebih enak hujan batu di negeri sendiri.  Namun TVRI telah bertekad, akan memperkuat siarannya di daerah perbatasan dengan menambah jumlah Transmisi dan menambah kekuatan daya pancarnya di Transmisi yang telah ada, karena Nasionalisme, sudah harga mati. Semoga.

Jumat, 25 Mei 2012

Dialog PWI Mencari Solusi
Tema: Membangun Perekonomian di Daerah Perbatasan Kalimantan Timur

Selasa, 15 Mei 2012

Malam minggu bersama slamet raharjo

SAMARINDA - Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak menegaskan Pemprov dan DPRD Kaltim memiliki komitmen yang sama untuk membangun kawasan perbatasan. Menurut Awang, masyarakat perbatasan juga memiliki hak yang sama untuk menikmati kemajuan dan hasil pembangunan di berbagai sektor.
Menuju sasaran tersebut, Awang mengatakan ada dua strategi yang saat ini dikembangkan pemerintah, yakni dengan pendekatan keamanan (security) dan kesejahteraan (prosperity).
"Dinamika permasalahan perbatasan membutuhkan kerjasama semua stake holder. Urusan Security menjadi tanggung jawab TNI dan Polri, sedangkan prosperity menjadi tugas pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota," kata Awang Faroek saat menjadi nara sumber pada paket program TVRI, Minggu Malam Bersama Selamet Rahardjo, Selasa (8/5).
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kaltim 2009 - 2013, pembangunan kawasan perbatasan menjadi prioritas dengan porsi anggaran yang cukup besar. Pemprov Kaltim bekerja keras untuk mengubah paradigma kawasan perbatasan dari kawasan tertinggal dan selalu dianggap sebagai halaman belakang Negara menjadi beranda terdepan republik.
Langkah yang dilakukan Pemprov Kaltim diantaranya adalah dengan membuka jalan akses menuju kawasan perbatasan dan membenahi bandara udara (airport) di perbatasan. Pemprov juga menggalang kerjasama dengan jajaran TNI Angkatan Darat untuk rencana perpanjangan landasan pacu bandara perbatasan dalam program Bhakti Kartika Jaya.
"Akhir Mei ini, Mendagri akan menghadiri ground breaking perpanjangan landasan Bandara Yuvai Semaring di Kecamatan Krayan, Nunukan. Inilah salah satu bentuk dukungan pemerintah untuk memperlancar arus transportasi dari dan menuju kawasan perbatasan," jelas Awang.
Membangun kawasan perbatasan ini, Pemprov Kaltim juga telah melaksanakan program-program pro rakyat diantaranya pengembangan sentra produksi pertanian dan berbagai pembangunan infrastruktur serta pembangunan sumber daya manusia.
Pembangunan sumber daya manusia, Awang menegaskan bahwa Pemprov Kaltim terus memberikan kontribusi bagi masyarakat perbatasan untuk menerima hak yang sama dalam pendidikan, seperti dirasakan masyarakat perkotaan. Salah satunya dilakukan dalam bentuk beasiswa kepada para pelajar dan mahasiswa di tiga kabupaten perbatasan, Nunukan, Malinau dan Kutai Barat.
Gubernur Awang Faroek menegaskan, Pemprov sudah melakukan upaya yang sangat konsisten, tetapi itu tidak akan cukup memberi pengaruh besar bagi kemajuan masyarakat di kawasan tersebut. Sebab itu, diperlukan dukungan para bupati di kawasan perbatasan untuk juga memberikan perhatian yang besar untuk pembangunan kawasan perbatasan ini.
"Di pusat kita punya Badan Pengelola Perbatasan , tetapi dana pembangunan kawasan perbatasan lebih banyak ada di Kementerian-Kementerian. Diperlukan sinergi yang baik, jangan sampai pusat melaksanakan program, tetapi orang daerah tidak ada yang tahu. Sebaiknya, program pusat lebih dulu disesuaikan dengan program-program daerah," beber Awang.
Dukungan lain yang diharapkan dari pemerintah pusat adalah dukungan kebijakan (policy) yang berpihak kepada kepentingan pengembangan kawasan perbatasan yang saat ini pun masih terkendala, salah satunya dengan peliknya penuntasan pembahasan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP).
Pada kesempatan tersebut, Gubernur Awang Faroek juga menyinggung komitmen Pemprov Kaltim untuk menjaga kawasan Heart of Borneo (HoB) yang luasnya mencapai 72 persen dari seluruh luasan HoB di pulau Kalimantan.
Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD Kaltim Sudarno menegaskan, DPRD Kaltim sangat menghargai upaya serius Gubernur Awang Faroek untuk membangun kawasan perbatasan. Untuk urusan yang satu ini, Sudarno mengatakan bahwa DPRD Kaltim sangat mendukung langkah-langkah yang diperjuangkan Gubernur Awang Faroek.
"Gubernur dan DPRD Kaltim berkomitmen untuk mensejahterakan rakyat perbatasan. Perbatasan harus benar-benar menjadi beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," tegas Sudarno.
Sudarno justru mengkritisi lemahnya dukungan pemerintah pusat untuk bersungguh-sungguh mewujudkan kawasan perbatasan menjadi beranda depan republik ini. Dia menilai, beranda depan NKRI hingga saat ini hanya sekedar jargon.
"Saya salut dengan gubernur dan SKPD-SKPD yang memberikan perhatian sangat besar untuk pembangunan perbatasan. Satu hal yang kita sayangkan, pemerintah pusat tidak memiliki keinginan serius menjadikan perbatasan benar-benar menjadi beranda depan NKRI," lanjut Sudarno.
Pada acara yang dipandu artis senior, Slamet Rahardjo tersebut Gubernur Awang Faroek juga menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan peserta yang berasal dari masyarakat dan mahasiswa. Dialog juga dihadiri seniman dan sastrawan terkenal Indonesia, Arswendo Atmowiloto.(sul/hmsprov)
Foto : Budayawan Slamet Rahardjo tampil sebagai pembawa acara pada rekaman gambar TVRI dengan narasumber Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak (tiga dari kiri) Ketua Komisi I DPRD Kaltim Sudarno didampingi Asisten III Setprov Kaltim Sutarnyoto.(syaiful/humasprov kaltim)

Rabu, 02 Mei 2012


WORKSHOP  PEACE  JURNALISM
Oleh Dwi Rahmawati
Konflik maupun pertikaian kini menjadi ancaman besar bagi masyarakat.  Bagaimana tidak, bangsa Indonesia sangat mudah terpancing emosi, apalagi menyangkut harga diri, agama, suku dan ras.

Ketika pemberitaan menayangkan  kejadian pertikaian tersebut, menyampaikan fakta dari lapangan secara langsung,  membuat khalayak percaya akan informasi itu dan menjadi ajang bisnis media di Indonesia.

Rating penyiaran ataupun pemberitaan menjadi tujuan utama dari pihak media massa, meski tidak menutup kemungkinan dapat membuat konflik makin panas dan berkepanjangan.

Disinilah hadir peace jounalism atau jurnalisme perdamaian untuk meluruskan persepsi yang selama ini dimiliki sebagian jurnalis, bukan sebagai juru damai, tetapi upaya jurnalis dalam mengurangi konflik dan memberikan win-win solution melalui pemberitaan.

Jurnalisme perdamaian hadir dengan tidak mengangkat data berupa angka, atribut ataupun pihak yang bertikai maupun siaran secara langsung dari tempat kejadian.

Lawan kata  dari jurnalisme perang ini, lebih mengungkap data berupa kerusakan yang diakibatkan dari konflik dan menyuarakan jeritan korban.

Jurnalis perdamaian tidak berdiri disatu pihak saja, tidak pula memandang dalam satu sudut pandang, tetapi berdiri diantara pihak yang berkonflik dan menggunakan strategi bird eyes view atau memandang konflik dari ketinggian.

LPP TVRI  menginginkan peace jurnalism dapat diterapkan dalam kegiatan peliputan.
Oleh karena itu Balai Diklat TVRI  menggelar workshop peace journalism selama lima hari dari tanggal 16 s/d 20 April 2012 di Hotel MJ Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. Pembukaan Workshop oleh  Ketua Dewas LPP TVRI, Elfisdat dan dihadiri Direktur Program &Berita, Irwan Hendarmin, serta  Kepsta TVRI Kalimantan Timur, Syarifuddin Lakku.
Selain itu hadir Anggota Dewas Bambang,  Direktur Teknik, Erina Tobing serta  Direktur Pengembangan Usaha, Erwin Aryanantha.

Workshop yang diikuti tidak kurang dari 12 peserta, berasal dari TVRI  di wilayah Timur Indonesia, yang rawan terhadap konflik dan pertikaian.
Pemateri dalam workshop ini, diantaranya  Purnama Suwardi Kepala Balai Diklat TVRI, Saur Hutabarat dari pimred Media Indonesia, Wahyu, pimred majalah Tempo  dan Sukirman, kepala bidang perencanaan program Balai Diklat TVRI.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger